HIKMAH DARI CINTAKU
Kini aku duduk di kelas 10 SMA, aku sekolah di SMA Aliah Negri 02 sekolahku adalah sekolah favorite Di Kotaku. Suasana ramai sekolah adalah hal yang biasa.
“Sepi yah hari ini ta.”
“jelas sepi pris, kita datang terlalu pagi.”
“Loe dudu sama siapa ta?”
“Sama kamu aja deh pris, aku belum kenal sama teman-teman baru kita.”
“oke ta!.”
Priska adalah sahabat aku dari SD, SMP, dan sekarang kita di pertemukan kembali di SMA. Kini aku aktif di ekskul Paskibra sedangkan priska aktif di ekskul Pramuka.
“Ta nanti pulang bareng yah, tapi gue ekskul dulu...”
“Sip deh, apa sih yang engga buat sahabatku ini.”
“Haha, apa sih loe ta gombal deh.”
Kini aku duduk di kelas 10 SMA, aku sekolah di SMA Aliah Negri 02 sekolahku adalah sekolah favorite Di Kotaku. Suasana ramai sekolah adalah hal yang biasa.
“Sepi yah hari ini ta.”
“jelas sepi pris, kita datang terlalu pagi.”
“Loe dudu sama siapa ta?”
“Sama kamu aja deh pris, aku belum kenal sama teman-teman baru kita.”
“oke ta!.”
Priska adalah sahabat aku dari SD, SMP, dan sekarang kita di pertemukan kembali di SMA. Kini aku aktif di ekskul Paskibra sedangkan priska aktif di ekskul Pramuka.
“Ta nanti pulang bareng yah, tapi gue ekskul dulu...”
“Sip deh, apa sih yang engga buat sahabatku ini.”
“Haha, apa sih loe ta gombal deh.”
![]() |
| Hikmah Dari Cintaku - Cerpen Cinta |
Sambil menunggu priska aku memainkan HandPhone yang sedang aku genggam, untuk menghilangkan rasa bosan aku saat menunggu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsallam.” Jawab Tasya dengan terkejut.
“Maaf Kaka buat kamu terkejut.”
“Oh, iya tidak apa-apa Kak.”
Saat menoleh ke arah suara itu seorang laki-laki berbadan tegak dan gagah dengan senyuman yang manis menghampiriku, dan ternyata laki-laki itu adalah pria yang aku idamkan saat pertama kali aku melihatnya di sekolah ini.
“Nama kamu siapa?.” Tanyanya pria berbadan gagah itu.
“Ehmm..Ehmm nama aku Tasya.” Jawabnya dengan gugup.
“Oh Tasya, kamu lagi apa di sini?”
“Lagi menunggu teman.”
Sebentar saja aku berbincang dengan laki-laki itu, tiba-tiba Priska datang untuk mengajakku pulang.
“hey, ada Ka Hendra. Gue pulang duluan ya, ayo Ta!.”
Di tengah jalan aku bertanya dengan Priska tentang laki-laki berbadan tegak dan gagah itu.
“Pris kamu kenal dengan laki-laki yang tadi?.”
“Ya kenal lah, Ka Hendra itu ketua pramuka di sekolah kita dan dia juga ketua OSIS di sekolah kita.”
“Masa sih? Kok aku engga pernah tau yah.” Agak heran.
“Kamu mana memperhatikan hal-hal seerti itu ta.”
Obrolan mereka terputus karena rumah mereka berbeda arah.
*~*~*~*~*~*
“Pris!!.” Panggil Tasya.
“Apa ta?”
“Hari ini kamu latihan Pramuka kan?”
“Iya, memang kenapa?”
“Aku mau pulang bareng kamu lagi.”
“Oh yaudah, seperti biasa loe tungguin gue ekskul dulu ya! Hehe.”
“okkeee...deh priska.”
Mereka pergi meninggalkan kelas untuk pergi berkumpul di lapangan, sedangkan aku duduk di tempat biasa aku menunggu Priska.
Saat termenung suara lembut itu aku dengar kembali.
“Assalamu’alaikum Tasya.”
“Wa..wa..laikumsallam.”
Seketika lidahku menjadi kelut, jantungku berdebar kencang dan aku seperti tidur di taman bunga yang indah.
“hey Tasya apa kabar?” Tanyanya Hendra.
“Kabar baik Kak.” Jawabnya dengan senyum.
“Kaka boleh minta nomor HandPhone kamu tidak? Hhmm.. Bukan untuk hal yang macam-macam kok, hanya untuk sharing pengalaman aja itu juga kalau boleh.”
“Bo...Bo..leh kok, ini 0878808xxxxx.”
“Terima kasih ya.”
Setelah meminta nomor Tasya, Hendra bergegas meninggalkan Tasya untuk latihan Pramuka kembali. Dengan senyuman manisnya ia pergi....
*~*~*~*~*~*~**~*~
Dua Bulan berlalu aku dan Hendra semakin dekat saja, kita berdua seperti mempunyai hubungan spesial. Namun dari sisi lain aku harus menerima kenyataan pahit bahwa Hendra sudah ada yang memiliki.
“Ya Allah, beruntunglah wanita yang dapat meluluhkan hatinya. Jika engkau mengizinkan, izinkan aku bersamanya walau hanya sekejap saja. Aku ingin merasakan kebahagiaan bersama sesorang yang aku cinta.”
*~*~*~*~*~*~*~*~
Di sebuah taman aku dan priska duduk bersama.
“Pris kayanya aku jatuh cinta dengan Ka Hendra deh...”
“Apa Ka Hendra? Gila loe Ta, dia sudah ada yang punya.”
“Aku tau, tapi perasaan ini tidak bisa aku bohongin pris.”
Tiba-tiba Johan teman sekelas Tasya dan Priska datang, pembicaraan terhenti begitu saja.
“Hoy! Ngapain loe berdua disini? Apa jangan-jangan....”
“Apa sih loe, jangan bicara yang macam-macam deh!”
“Tau nih Johan, sudah yuk ke kelas saja.” Ajaknya Tasya.
“Yah, jangan marah dong.”
Bel pertama berbunyi bertanda jam pelajaran sekolah akan di mulai.
“Kring...kring...kring...”
Kegiatan ngajar-mengajar di mulai, kini giliran Guru Matematika yang masuk ke kelas. Saat Guru Matematika sedang menjelaskan, Tasya terlihat tidak memperhatikan. Dia terus memikirkan Hendra laki-laki berpostur tegak dengan senyuman manis.
“Tasya Az-Zahra kerjakan soal yang ada di papan tulis, cepat!!!”
Aku yang terkejut saat Guru Matematika menyuruhku untuk mengerjakan soal yang sudah di siapkan di papan tulis untukku, gemetar sekali badanku karena aku tidak mengerti sama sekali.
“Aduh aku yah? Gimana dong aku engga ngerti.”
“Loe lagi mikirin apa sih ta, tidak biasanya loe begini.”
Tatapan teman-temanku tertuju kepadaku, saat aku mencoba maju ke depan, alhasil aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang ada di papan tulis.
“Sedang memikirkan apa kamu saat Ibu menerangkan di depan?.” Dengan tatapan marah. “Ma..Ma..Af Bu.” Terdunduk menahan malu.
“Berdiri di sini sampai pelajaran Ibu selesai!!!”
Tiga puluh menit berlalu, Bel tanda berakhirnya pelajaran pun berbunyi. Hukuman aku akhirnya selesai juga, ini kali pertama aku di hukum di depan teman-temanku. Dan hari ini Priska tidak bisa pulang bersama aku karena ada suatu perkumpulan.
“Assalamu’alaikum.”
Aku dengar lagi suara lembut yang selalu menggetarkan hatiku.
“Wa’alaikumsallam, eh Kak Hendra ada apa?”
“Kaka mau kasih sesuatu sama kamu, Kaka mau kamu pejamkan mata kamu sebentar saja.”
“Ngapain sih kak?”
“Udah pejamkan saja mata kamu.”
Aku pegang sebuah kotak persegi panjang saat aku buka kedua bola mataku sebuah cokelat panjang sudah aku genggam di tangan aku.
“Bagaimana kaka tahu aku suka coklat?”
“Kaka tahu segalanya tentang kamu Tasya.”
Tasya membalasnya hanya dengan senyuman, wajah putih Tasya berubah menjadi merah.
*~*~*~*~*~*~*~*
Ke esokkan harinya....
“Tasya......”
“Iya, ada apa Kak Hendra?”
“Ayo ikut Kaka.”
“Kemana Kak?”
“sudah ikut saja.”
Dia mengajakku ke sebuah tempat yang sunyi dan di sana sudah ada kejutan untuk aku. Sebuah kata “I LOVE YOU” yang di ukir dengan bunga indah tentu saja ini semua membuatku terkejut.
“Maksud dari semua ini apa Kak?”
“Iya, kaka suka sama kamu tasya dan cintaku ini atas dasar cintaku kepada Allah.”
“Maksud Kaka apa? Aku semakin tidak mengerti.”
“Tasya Kaka sayang sama kamu, mau tidak kamu jadi pacar Kaka?” dengan berlutut memberikan mawar putih kesukaan Tasya.
Aku terdiam, jantungku berdebar sangat kencang, pikiranku jadi kacau, keringat dingin terus mengalir. Aku bingung harus jawab apa, Ka Hendra adalah cinta pertamaku. Hingga akhirnya aku teringat ucapan Abi (Ayah) aku.
“ Kak, sebelum aku menjawabnya aku punya 3 pertanyaan untuk kaka. Kaka siap untuk menjawabnya?”
“InsyaAllah dengan izin Allah Kaka siap ”
Dengan tatapan penuh harap Ka Hendra menatap ku, namun tak ku balas tatapan itu. Pertanyaan pertama siap aku tanyakan.
“Bagaimana hubungan Kaka dengan Laila?”
Saat aku bertanya seperti itu Ka Hendra hanya tertawa kecil, hingga aku bingung. Mengapa dia santai sekali menjawab pertanyaan aku.
“Alhandulillah Hubungan Kaka dengan dia baik.”
Pertanyaan kedua.
“Atas dasar apa Kaka mencintaiku dan bagaimana dengan Laila?.”
Wajah santai itu terus terpancang di wajah Kak Hendra.
“Entahlah, tiba-tiba perasaan ini datang saat pertama kali melihat kamu. Mungkin ini jawaban dari Allah atas semua do’a aku selama ini. Dan Laila sangat setuju kalau kita berdua jadian.”
Tak bisa di bayangkan perempuan mana yang setuju kalau pacarnya jadian lagi dengan wanita lain, tak habis fikir Laila berbicara seperti itu.
“Tidak mungkin Laila berbicara seperti itu Kak, mana mungkin seorang perempuan setuju kalau pacarnya jadian dengan orang lain?.” Dengan suara tegas .
Hendra tertawa mendengar ucapan Tasya.
“Hhmm... Jadi kamu kira Kaka pacaran dengan Laila? Kamu tau Laila itu adik kandung Kaka, memang banyak yang mengira Kaka dan Laila pacaran. Tapi Kaka menganggapnya dengan cuek, hingga Kaka bertemu dengan kamu.”
Aku hanya terdiam menahan malu karena sudah so’udzon dengan Kak Hendra, ternyata dia benar laki-laki yang baik. Tidak seperti yang aku bayngkan selama ini, pipi aku memerah lagi.
“Jadi Laila adik Kaka? Maaf aku tidak tau.”
“Tidak apa-apa itu juga salah Kaka tidak pernah cerita dengan kamu, jadi gimana jawabannya?”
Pertanyaan terkhir yaitu pertanyaan ketiga.
“Bukannya aku menolak Kaka, tapi Kaka tau apa hukum berpacaran?”
“Iya Kaka tau, Allah akan melaknat orang-orang yang berpacaran. Dan hukum berpacaran itu haram, karena termasuk zinah kecil.”
Perkataan Kak Hendra persis seperti perkataan Abi (ayah) aku, aku semakin kagum dengan dia.
“Berarti Kaka sudah tau jawaban aku.” Menatap dengan senyum.
“Kamu benar Tasya, saat ini Kaka sedang di goda syaitan untuk berpacaran. Maafkan Kaka.” Dengan murung menjawabya.
“Bukan berarti setelah ini kita tidak lagi dekat Kak, aku ingin kita terus menjaga Tali Silaturahmi di antara kita dengan Ta’aruf Kak.”
“Iya, Kaka akan berusaha menjaga cinta suci ini hingga Allah mempersatukan kita. Ingat tanpa pacaran! Hehe... Kaka akan tunggu kamu hingga kamu siap menjadi makhrom Kaka .”
Kini aku belajar cara mencintai seseorang dengan benar, yaitu dengan Ta’aruf . Terimakasih Ya Allah akhirnya engkau memberikan jalan yang benar untukku, kini aku menyadari bahwa cinta tak harus memiliki tetapi bagaimana cara kita menjaga cinta suci ini. Hingga Allah mempersatukan cinta kita, dan Allah-lah yang akan memisahkan kita berdua, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsallam.” Jawab Tasya dengan terkejut.
“Maaf Kaka buat kamu terkejut.”
“Oh, iya tidak apa-apa Kak.”
Saat menoleh ke arah suara itu seorang laki-laki berbadan tegak dan gagah dengan senyuman yang manis menghampiriku, dan ternyata laki-laki itu adalah pria yang aku idamkan saat pertama kali aku melihatnya di sekolah ini.
“Nama kamu siapa?.” Tanyanya pria berbadan gagah itu.
“Ehmm..Ehmm nama aku Tasya.” Jawabnya dengan gugup.
“Oh Tasya, kamu lagi apa di sini?”
“Lagi menunggu teman.”
Sebentar saja aku berbincang dengan laki-laki itu, tiba-tiba Priska datang untuk mengajakku pulang.
“hey, ada Ka Hendra. Gue pulang duluan ya, ayo Ta!.”
Di tengah jalan aku bertanya dengan Priska tentang laki-laki berbadan tegak dan gagah itu.
“Pris kamu kenal dengan laki-laki yang tadi?.”
“Ya kenal lah, Ka Hendra itu ketua pramuka di sekolah kita dan dia juga ketua OSIS di sekolah kita.”
“Masa sih? Kok aku engga pernah tau yah.” Agak heran.
“Kamu mana memperhatikan hal-hal seerti itu ta.”
Obrolan mereka terputus karena rumah mereka berbeda arah.
*~*~*~*~*~*
“Pris!!.” Panggil Tasya.
“Apa ta?”
“Hari ini kamu latihan Pramuka kan?”
“Iya, memang kenapa?”
“Aku mau pulang bareng kamu lagi.”
“Oh yaudah, seperti biasa loe tungguin gue ekskul dulu ya! Hehe.”
“okkeee...deh priska.”
Mereka pergi meninggalkan kelas untuk pergi berkumpul di lapangan, sedangkan aku duduk di tempat biasa aku menunggu Priska.
Saat termenung suara lembut itu aku dengar kembali.
“Assalamu’alaikum Tasya.”
“Wa..wa..laikumsallam.”
Seketika lidahku menjadi kelut, jantungku berdebar kencang dan aku seperti tidur di taman bunga yang indah.
“hey Tasya apa kabar?” Tanyanya Hendra.
“Kabar baik Kak.” Jawabnya dengan senyum.
“Kaka boleh minta nomor HandPhone kamu tidak? Hhmm.. Bukan untuk hal yang macam-macam kok, hanya untuk sharing pengalaman aja itu juga kalau boleh.”
“Bo...Bo..leh kok, ini 0878808xxxxx.”
“Terima kasih ya.”
Setelah meminta nomor Tasya, Hendra bergegas meninggalkan Tasya untuk latihan Pramuka kembali. Dengan senyuman manisnya ia pergi....
*~*~*~*~*~*~**~*~
Dua Bulan berlalu aku dan Hendra semakin dekat saja, kita berdua seperti mempunyai hubungan spesial. Namun dari sisi lain aku harus menerima kenyataan pahit bahwa Hendra sudah ada yang memiliki.
“Ya Allah, beruntunglah wanita yang dapat meluluhkan hatinya. Jika engkau mengizinkan, izinkan aku bersamanya walau hanya sekejap saja. Aku ingin merasakan kebahagiaan bersama sesorang yang aku cinta.”
*~*~*~*~*~*~*~*~
Di sebuah taman aku dan priska duduk bersama.
“Pris kayanya aku jatuh cinta dengan Ka Hendra deh...”
“Apa Ka Hendra? Gila loe Ta, dia sudah ada yang punya.”
“Aku tau, tapi perasaan ini tidak bisa aku bohongin pris.”
Tiba-tiba Johan teman sekelas Tasya dan Priska datang, pembicaraan terhenti begitu saja.
“Hoy! Ngapain loe berdua disini? Apa jangan-jangan....”
“Apa sih loe, jangan bicara yang macam-macam deh!”
“Tau nih Johan, sudah yuk ke kelas saja.” Ajaknya Tasya.
“Yah, jangan marah dong.”
Bel pertama berbunyi bertanda jam pelajaran sekolah akan di mulai.
“Kring...kring...kring...”
Kegiatan ngajar-mengajar di mulai, kini giliran Guru Matematika yang masuk ke kelas. Saat Guru Matematika sedang menjelaskan, Tasya terlihat tidak memperhatikan. Dia terus memikirkan Hendra laki-laki berpostur tegak dengan senyuman manis.
“Tasya Az-Zahra kerjakan soal yang ada di papan tulis, cepat!!!”
Aku yang terkejut saat Guru Matematika menyuruhku untuk mengerjakan soal yang sudah di siapkan di papan tulis untukku, gemetar sekali badanku karena aku tidak mengerti sama sekali.
“Aduh aku yah? Gimana dong aku engga ngerti.”
“Loe lagi mikirin apa sih ta, tidak biasanya loe begini.”
Tatapan teman-temanku tertuju kepadaku, saat aku mencoba maju ke depan, alhasil aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang ada di papan tulis.
“Sedang memikirkan apa kamu saat Ibu menerangkan di depan?.” Dengan tatapan marah. “Ma..Ma..Af Bu.” Terdunduk menahan malu.
“Berdiri di sini sampai pelajaran Ibu selesai!!!”
Tiga puluh menit berlalu, Bel tanda berakhirnya pelajaran pun berbunyi. Hukuman aku akhirnya selesai juga, ini kali pertama aku di hukum di depan teman-temanku. Dan hari ini Priska tidak bisa pulang bersama aku karena ada suatu perkumpulan.
“Assalamu’alaikum.”
Aku dengar lagi suara lembut yang selalu menggetarkan hatiku.
“Wa’alaikumsallam, eh Kak Hendra ada apa?”
“Kaka mau kasih sesuatu sama kamu, Kaka mau kamu pejamkan mata kamu sebentar saja.”
“Ngapain sih kak?”
“Udah pejamkan saja mata kamu.”
Aku pegang sebuah kotak persegi panjang saat aku buka kedua bola mataku sebuah cokelat panjang sudah aku genggam di tangan aku.
“Bagaimana kaka tahu aku suka coklat?”
“Kaka tahu segalanya tentang kamu Tasya.”
Tasya membalasnya hanya dengan senyuman, wajah putih Tasya berubah menjadi merah.
*~*~*~*~*~*~*~*
Ke esokkan harinya....
“Tasya......”
“Iya, ada apa Kak Hendra?”
“Ayo ikut Kaka.”
“Kemana Kak?”
“sudah ikut saja.”
Dia mengajakku ke sebuah tempat yang sunyi dan di sana sudah ada kejutan untuk aku. Sebuah kata “I LOVE YOU” yang di ukir dengan bunga indah tentu saja ini semua membuatku terkejut.
“Maksud dari semua ini apa Kak?”
“Iya, kaka suka sama kamu tasya dan cintaku ini atas dasar cintaku kepada Allah.”
“Maksud Kaka apa? Aku semakin tidak mengerti.”
“Tasya Kaka sayang sama kamu, mau tidak kamu jadi pacar Kaka?” dengan berlutut memberikan mawar putih kesukaan Tasya.
Aku terdiam, jantungku berdebar sangat kencang, pikiranku jadi kacau, keringat dingin terus mengalir. Aku bingung harus jawab apa, Ka Hendra adalah cinta pertamaku. Hingga akhirnya aku teringat ucapan Abi (Ayah) aku.
“ Kak, sebelum aku menjawabnya aku punya 3 pertanyaan untuk kaka. Kaka siap untuk menjawabnya?”
“InsyaAllah dengan izin Allah Kaka siap ”
Dengan tatapan penuh harap Ka Hendra menatap ku, namun tak ku balas tatapan itu. Pertanyaan pertama siap aku tanyakan.
“Bagaimana hubungan Kaka dengan Laila?”
Saat aku bertanya seperti itu Ka Hendra hanya tertawa kecil, hingga aku bingung. Mengapa dia santai sekali menjawab pertanyaan aku.
“Alhandulillah Hubungan Kaka dengan dia baik.”
Pertanyaan kedua.
“Atas dasar apa Kaka mencintaiku dan bagaimana dengan Laila?.”
Wajah santai itu terus terpancang di wajah Kak Hendra.
“Entahlah, tiba-tiba perasaan ini datang saat pertama kali melihat kamu. Mungkin ini jawaban dari Allah atas semua do’a aku selama ini. Dan Laila sangat setuju kalau kita berdua jadian.”
Tak bisa di bayangkan perempuan mana yang setuju kalau pacarnya jadian lagi dengan wanita lain, tak habis fikir Laila berbicara seperti itu.
“Tidak mungkin Laila berbicara seperti itu Kak, mana mungkin seorang perempuan setuju kalau pacarnya jadian dengan orang lain?.” Dengan suara tegas .
Hendra tertawa mendengar ucapan Tasya.
“Hhmm... Jadi kamu kira Kaka pacaran dengan Laila? Kamu tau Laila itu adik kandung Kaka, memang banyak yang mengira Kaka dan Laila pacaran. Tapi Kaka menganggapnya dengan cuek, hingga Kaka bertemu dengan kamu.”
Aku hanya terdiam menahan malu karena sudah so’udzon dengan Kak Hendra, ternyata dia benar laki-laki yang baik. Tidak seperti yang aku bayngkan selama ini, pipi aku memerah lagi.
“Jadi Laila adik Kaka? Maaf aku tidak tau.”
“Tidak apa-apa itu juga salah Kaka tidak pernah cerita dengan kamu, jadi gimana jawabannya?”
Pertanyaan terkhir yaitu pertanyaan ketiga.
“Bukannya aku menolak Kaka, tapi Kaka tau apa hukum berpacaran?”
“Iya Kaka tau, Allah akan melaknat orang-orang yang berpacaran. Dan hukum berpacaran itu haram, karena termasuk zinah kecil.”
Perkataan Kak Hendra persis seperti perkataan Abi (ayah) aku, aku semakin kagum dengan dia.
“Berarti Kaka sudah tau jawaban aku.” Menatap dengan senyum.
“Kamu benar Tasya, saat ini Kaka sedang di goda syaitan untuk berpacaran. Maafkan Kaka.” Dengan murung menjawabya.
“Bukan berarti setelah ini kita tidak lagi dekat Kak, aku ingin kita terus menjaga Tali Silaturahmi di antara kita dengan Ta’aruf Kak.”
“Iya, Kaka akan berusaha menjaga cinta suci ini hingga Allah mempersatukan kita. Ingat tanpa pacaran! Hehe... Kaka akan tunggu kamu hingga kamu siap menjadi makhrom Kaka .”
Kini aku belajar cara mencintai seseorang dengan benar, yaitu dengan Ta’aruf . Terimakasih Ya Allah akhirnya engkau memberikan jalan yang benar untukku, kini aku menyadari bahwa cinta tak harus memiliki tetapi bagaimana cara kita menjaga cinta suci ini. Hingga Allah mempersatukan cinta kita, dan Allah-lah yang akan memisahkan kita berdua, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia.
sumber: http://www.lokerseni.web.id/2013/11/hikmah-dari-cintaku-cerpen-cinta.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar